MATERI LITHOSFER

MATERI LITHOSFER (Batuan, Proses tenaga endogen, Gempa, Pelapukan)


KLASIFIKaSI BATUAN
Berdasarkn proses terjadinya  batuan dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu :
A.    BATUAN BEKU
1.      Batuan Beku Dalam
pembekuannya terjadi didalam , jauh dibawah permukaan bumi. proses pendidnginanya sangat lmbat, yang mengakibatkan terbentuknya hablur-hablur mineral besar-besar dan sempurna serta kompak. struktur ini disebut plutonik atau granites (holokristalin). batuan beku dalam disebut juga batuan abisis contohnya batuan granit, diorite, sienit, dan gabro.
2.      Batuan beku gang atau korok atau batuan hipabisis
sisa magma yang masih cair meresap kelapisan yang lebih atas  dan menyususp kesela-sela pipa gunung api kemudian menjadi dingin dan membeku.prosesnya sangant cepat sehingga kristal-kristal yang terjadi tidak sekompak batuan beku dalam. struktur batuan ini disebut juga struktur porfiri. contohnya granit, porfiri diorite, porfiri sienit, dan porfiri.
3.      Batuan beku luar atau batuan beku effusive
batuan ini terjadi dari magma yang mencapai permukaan bumi, kemudian membeku.prosesnya sangat cepat sekali sehingga membentuk kristal (hablur). missal pada tekstur porfiritik.
B.     BATUAN SEDIMENT
batuan beku yang tersingkap dipermukaan bumi akan mengalami penghancuran (pelapukan) oleh pengaruh cuaca, kemudian diangkut oleh tenaga alam seperti air, angina atau gletser dan diendapkan ditempat lain sehingga terbentuklah batuan endapan (sedimen).
menurut proses terjadinya batuan sediment dibedakan atas :
1.      Batuan klastik atau mekanik, terbentuk dari gumpalan batu besar yang diangkut dari lereng gunung melalui air hujan lalu diangkut oleh arus sungai dan kemudian diendapkan didaerah hilir dalam bentuk pasir yang susunan kimiawinya masih sama dengan batuan asal. contohnya batu breksi, batu konglomerat, pasir, tanah liat.
2.      Batuan kimiawi,  terbentuk melalui proses kimiawi. seperti yang dialami batu kapur dibagian atap gua kapur. batu kapur yang diresapi air hujan  yang mengandung karbondioksida akan larut dalam bentuk larutan air kapur. kemudian larutan tersebut menetes  dibagian dasar gua dan atap gua sehingga membentuk stalaktit dan stalakmit. yang merupakan salah satu proses yang dihasilkan oleh batuan kimiawi.
3.      Batuan Organis, dibentuk dari penumpukkan (akumulasi) sisa-sisa tumbuhan dan hewan. contohnya batu karang. berdasarkan tenaga yang mengngkutnya batuan sediment terbagi 3 yaitu  sediment akuatis diendapkan oleh air seperti batu pasir, sediment aeolis (aeris) diendapkan oleh angina (udara) seperti tanah loss dan tanah pasir, sediment glacial diendapkan oleh gletser seperti batu-batu morena.
C.    BATUAN METAMORF
Batuan metamorf adalah batuan hsil ubahan dari batuan asal akibat proses metamorfosis, yaitu proses yang dialami batuan asal akibat tekanan dan suhu yang sama-sama meningkat.  batuan metemorf dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.      Batuan Metamorf Termik (Kontak), terbentuk karena kenaikan suhu. misalnya batuan kapur yang terbentuk karena pengaruh suhu yang tinggi sehingga menjadi cair, kemudian setelah mengalami proses pendinginan berubahlah batuan kapur tadi menjadi  menjadi batu pualam (marmer).
2.      Batuan Metamorf Dinamik, batuan yang terbentuk akibat adanya tekanan dari lapisan diatasnya dalam waktu yang lama. batuan ini disebut juga batuan metamorf kinetis, contohnya batu tulis (sabak) yang berasal dari tanah liat.
3.      Batuan Metamorf Kontak Pneumotolotik, batuan yang terbentuk akibat adanya penambahan suhu disertai menyusupnya unsure-unsur batuan lain (zay lain). kuarsa yang dalam proses metamorfnya disusupi unsure boron akan menghasilkan batu permata yang disebut turmalin.
 
MACAM-MACAM BENTUK MUKA BUMI
SEBAGI AKIBAT PROSES ENDOGEN
Tenaga endogen berasal dari dalam bumi yang memiliki sifat membangun, artinya membentuk bentukan-bentukan baru di permukaan bumi. Tenaga endogen bermacam-macam, seperti tektonisme (epirogenesa dan orogenesa), seisme (gempa bumi), dan vulkanisme.
Tektonisme adalah perubahan letak lapisan kulit bumi yang disebabkan oleh tenaga endogen dengan arah horizontal dan vertikal. Vulkanisme adalah peristiwa yang berhubungan dengan pembentukan gunung berapi dan pergerakan magma dari dalam bumi kepermukaan. Seisme (gempa bumi) adalah gerakan atau getaran dipermukaan bumi yang berasal dari lapisan-lapisan bumi.
1.    TEKTONISME
Menurut kecepatan geraknya, tektonisme dibedakan menjadi dua bagian :
a.    Epirogenesa, adalah perubahan lapisan kulit bumi yang  gerakannya lambat pada wilayah yang luas. Epirogenesa terbagi dua yaitu epirogenesa positif dan epirogenesa negatif.
·      Epirogenesa positif adalah gejala turunnya daratan sehingga seolah-olah air laut naik. Contohnya tenggelamnya benua Gondwana, tenggelamnya daratan Atlantis.
Gambar Epirogenesa Positif

·      Epirogenesa negatif adalah gejala naiknya daratan sehingga seolah-olah air laut turun. Contohnya naik pulau Timor dan Buton, naiknya pantai Skandinavia.
Gambar Epirogenesa Negatif
b.    Gerak orogenesa, adalah suatu gerakan tenaga endogen yang relatif cepat dan meliputi wilayah yang relatif sempit. Ini berarti pembentukan pegunungan (oros = gunung, genesus = kelahiran) dan lipatan. Contohnya terbentuknya lipatan pegunungan muda sirkumpaifik.
·      Lipatan, yaitu gerakan pada lapisan bumi yang tidak terlalu besar dan berlangsung dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi berkerut atau melipat, kerutan atau lipatan bumi ini yang nantinya menjadi pegunungan. Punggung lipatan dinamakan antiklinal, daerah lembah (sinklinal) yang sangat luas dinamakan geosinklinal, ada beberapa lipatan, yaitu lipatan tegak miring, rebah, menggantung, isoklin dan kelopak.
Gb. Lipatan
Gb. Jenis-jenis Lipatan
Keterangan Gambar :
a. lipatan tegak      d. lipatan menggantung
b. lipatan miring    e. lipatan isoklin
c. lipatan rebah      f. lipatan kelopak
·      Patahan, yaitu gerakan pada lapisan bumi yang sangat besar dan berlangsung dalam waktu yang sangat cepat, sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi retak atau patah. Gerakannya bersifat vertikal sehingga menghasilkan bentuk muka bumi yang berupa patahan. Bagian muka bumi yang mengalami patahan seperti graben dan horst. Horst adalah tanah naik, terjadi bila terjadi pengangkatan. Graben adalah tanah turun, terjadi bila blok batuan mengalami penurunan.
Gambar Patahan
Gb. Jenis-jenis patahan
2.    VULKANISME
vulkanisme adalah gerakan magma dari dalam bumi. vulkanisme terdiri dari dua  macam yaitu intrusi magma (plutonisme) dan ekstrusi magma.
Intrusi Magma adalah aktivitas magma yang tidak sampai kepermukaan bumi. akibatnya ada intruksi magma terjadi macam-macam bentukan sebagai berikut :
·         Batolit, merupakan dapur magma yang luasnya lebig dari 100 km2.
·         Lakolit, yaitu magma yang menyusup diantara dua lapisan batuan yang menyebabkan lapisan batuan diatasnya terangkat sehingga cembung, sedangkan alasnya rata.
·         Sill, yaitu lapisan mgma tipis yang menyusup diantara batuan lapisan bentuknya pipih.
·         Intrusi Korok (Gang), yaitu magma yang menyusup menerobos lapisan batuan.
·         Apofisis, yaitu semacam intruksi korok namun lebih kecil merupakan cabang dari gang.
·         Diaterema, yaitu magma (batuan) yang menisi pipa letusan (pipa kawah).
Gb. Penampang Gunung Api dengan bagian-bagiannya
Ekstrusi Magma, adalah aktivitas magma yang sampai kepermukaan bumi. ekstrusi magma menghasilkan gunung api. hasil ekstrusi magma yaitu erupsi. Dilihat dari bentuknya  erupsi terdiri dari tiga jenis yaitu :
1.      Erupsi Sentral, yaitu gerakan magma yang keluar dari sebuah saluran magma.
2.      Erupsi Linier, adalah erupsi yang terjadi pada lubang yang berbentuk celah memanjang. Contohnya erupsi Gunung api Laki di pulau Eslandia.
3.      Erupsi Areal, adalah erupsi yang terjadi melalui lubang yang besar karena dapur magma letaknya dekat sekali kepermukaan bumi.
Ada tiga bentuk gunung berapi, yaitu :

Gambar Jenis-jenis Gunung Api
1.  Gunung Api Perisai (Tameng), erupsinya bersifat efusif dan bahan yang dikelurakannya hanya berwujud cair. Gunung berapi ini berbentuk perisai  dan terjadi karena lelehan maupun cairan yang keluar dan membentuk lereng yang sangat landai dengan sudut kemiringan 10-10 0 . contohnya gunung Kilauea, Maunaloa, Maunakea di kepulauan Hawai.
                                                                                                                                     
2.     Gunung Api Maar, erupsinya bersifat eksplosif. Bahan yang dikeluarkan relatif sedikit karena sumber magma dangkal dan sempit.gunung semacam ini seperti sebuah cekungan dengan tanggul disekitarnya sehingga gunung ini akan berubah menjadi sebuah danau. Contohnya danau Kelakah dilereng gunung Lamongan, danau Eiffel di Perancis.
3.     Gunung Api Strato, gunung api ini terjadi akibat erupsi yang bersifat campuran antara Eksplosif dan Efusif yang bergantian secara terus menerus. Bentuk gunung api ini paling banyak didunia, gunung api di Indonesia umumnya berbentuk strato sperti gunung Merapi di Yogyakarta.

Berdasarkan kekuatannya erupsi gunung api dapat dibedakan menajdi dua  yaitu erupsi efusif dan erupsi eksplosif. Erupsi Efusif adalah proses gunung api yang berupa ledakan lemah. Erupsi eksplosif adalah erupsi gunung api yang berupa ledakan kuat.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tipe letusan gunung api antara lain :
1.      Derajat kekentalan magma
2.      Tekanan gas Magnetik
3.      Kedalaman dapur magma.
4.      Luasnya sumber/ dapur magma.
Jenis tipe letusan gunung api, yaitu :
1.      Tipe Hawaii, lavanya cair encer, tekanan gasnya rendah dan dapur magmanya sangat dangkal. Gunung apinya berbentuk perisai.
2.      Tipe Stromboli, lavanya cair encer, tekanan gasnya sedang karena sumber atau dapur magmanya dangkal. Letusan yang terjadi berupa semburan gas yang membawa magma yang disertai bom dan lapili. Contohnya gunung Stromboli, gunung Raung di Jawa Timur.
3.      Tipe Volkano, magmanya cair kental. Tipe ini dibedakan menjadi dua yaitu Volkano Lemah yaitu tekanan gas sedang dan sumber magma dangkal, contohnya gunung Bromo. Yang kedua Volkano kuat yaitu tekanan gas tinggi dan sumber magma dalam, contohnya gunung Semeru.
4.      Tipe Peret, tipe ini ditandai dengan lava cair kental, tekanan gas sangat tinggi, sumber magma sangat dalam kira-kira 50 km dengan letusan demikian dahsyat. Semburan gas dengan disertai material padat dapat mencapai ketinggian 85 km menjulang ke angkasa, seperti letusan gunung Krakatau tahun 1883, du pertiga badan gunung Krakatau hancur sehingga membentuk kaldera yang sangat luas.
5.      Tipe Merapi, lavanya kental, sumber magma sangat dangkal dan tekanan gasnya rendah.  Letusan berupa semburan gas yang keluar dari sumbat kawah yang retak atau dari sisi sumbat kawah itu.
6.      Tipe St. Vincent, lavanya kental, tekanan gas sedang dan sumber magmanya dangkal. Contohnya Gunung St. Vincent, Gunung Kelud Tahun 1919.
7.      Tipe Pelee, lavanya kental, tekanan gas tinggi, dan sumber magmanya dalam. Contohnya Gunung Montagne Pelee di Amerika Tengah. Pada waktu gunung tersebut meletus gas pijar keluar dari celah-celah sumbat lawah dengan suhu 200 0 C.
Gb. Tipe letusan gunung api
Penyebab gunung berapi meletus yaitu bila tekanan dibawah tanah bertambah, sehingga memaksa magma naik dan keluar melalui retakan pada permukaan bumi. Magma yang memancar melalui permukaan bersama, batu, debu, gas, disebut Lava.
Tanda-tanda gunung api akan meletus yaitu:
1.      Suhu sekitar kawah naik.
2.      Sumber air banyak yang mengering.
3.      Sering terjadi gempa bumi (gempa Vulkanik).
4.      Sering terdengar suara gemuruh dari dalam gunung.
5.      Binatang-binatang pindah kedaerah yang lebih rendah
6.      Tumbuhan-tumbuhan sekitar kawah mulai layu.
Material yang dikeluarkan gunung api ada tiga wujud  yaitu padat (eflata), cair, dan gas.
1.      Wujud padat (eflata), terdiri dari :
·      Bom yaitu eflata yang berukuran besar.
·      Lapili yaitu eflata dengan ukuran kecil seperti kerikil besarnya kira-kira sebesar biji kemiri.
·      Pasir vulkanik yaitu eflata sebesar batuan pasir.
·       Abu vulkanik yaitu eflata halus berupa debu yang dapat terbang beberapa kilometer jauhnya.
·      Batu apung yaitu batuan porous (berongga) berasal dari buih magma yang terlontar keluar dan cepat membeku.
2.      Wujud cair, terdiri dari :
·      Lava yaitu aliran magma yang sampai kepermukaan bumi dan suhunya sangat tinggi.
·      Lahar yaitu lumpur panas yang merupakan campuran lava dengan air dan bercampur dengan materi-materi dipermukaan bumi.
3.      Wujud gas, terdiri dari gas belerang, gas nitrogen, gas asam arang, dan uap air.
Keuntungan dari erupsi gunung api yaitu :
1.        Menyuburkan tanah, material erupsi seperti abu vulkanik dalam jangka waktu yang cukup lama mengandung unsur hara dapat menambah kesuburan tanah.
2.        Gunung api merupakan daerah penangkap hujan yang baik.
3.        Merupalan tempat objek wisata alam dengan keindahan alam dan udara yang sejuk.
4.        Terdapat bahan galian yang berharga dan gejala post vulkanik seperti sumber air panas, fumarol (uap air panas), solfatar (gas belerang).
Kerugian dari erupsi gunung api yaitu :
1.        Material yang dikeluarkan sangat berbahaya sehingga mengancam jiwa dan harta.
2.        Bom, lapili, dan pair vulkanik dapat merusak bangunan rumah, jembatan, ladang, dan sawah.
3.        Abu vulkanik yang bertaburan diangkasa dapat mengganggu penerbangan dan juga memepengaruhi tanaman pertanian dan perkebunan.
4.        Aliran lahar dan lava dapat merusak apa saja yang dilaluinya.
5.        Awan panas yang bergerak sangat cepat dapat membunuh penduduk, hewan dan tumbuhan.
6.        Aliran lahar dingin  menyebabkan terjadinya banjir lahar dan sungai menjadi dangkal.
7.        Gas racun (misal mofet) sewaktu-waktu mengancam penduduk yang berada disekitarnya.
Daerah-daerah gunung api di dunia
1.        Daerah lipatan pegunungan muda, yaitu sirkum pasifik dan sirkum mediterania.
2.        Daerah retakan di Afrika Timur.
3.        Eslandia, Greenland, dan Hawaii.
Sirkum Pasifik, merupakan pegunungan lipatan muda berusia tersier. Mulai dari kepulauan Aleut, semenanjung Kamsyatika, kepulaua Jepang, Taiwan, Pilifina, Sangir Talaud, Sulawesi Utara, Halmahera, Papua, Selandia Baru, menueberang kepegunungan andes di Amerika Selatan, menyambung kepegunungan  di Amerika dengan kepulauan Aleut.
Sirkum Mediterania, sirkum pegunungan muda dimediterania bermula didaerah sekitar Laut Mediterania, meliputi pegunungan Atlas (Afrika Utara), pegunungan Pirenea, Apenie, Karpatia, Anatolia Kaukasus, Himalaya, dan Arakan Yoma, lalu bersambung kebusur dalam dan busur luar yang terdapat di Indonesia.
Di Indonesia Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania melewati wilayah pulau Enggano kemudian tenggelam di Samudera Hindia dan muncul lagi di Pulau Sawu, Pulau Roti, Pulau Timor, Pulau Barbar, Pulau Seram dan berakhir di Pulau Buru.
3.    SEISME (GEMPA BUMI)
Gempa bumi adalah getaran kulit bumu yang disebabkan kekuatan dari dalam bumi. Atau pengertian lain Gempa Bumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, oleh patahan aktif aktivitas gunung berapi atau runtuhan batuan. Ilmu yang secara khusus mempelajari gempa disebut seismologi, sedangkan ilmuwan yang mengkhususkan diri untuk mempelajari gempa disebut seismolog. Alat yang digunakan untuk mengukur dan mencatat kekuatan getaran gempa disebut seismograf atau seismometer. Sumber gempa yang terletak didalam bumi disebut Hiposentrum, seumber gempa yang terletak  tegak lurus dipermukaan bumi disebut Episentrum.
Berdasarkan penyebab terjadinya gempa bumi dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
·      Gempa Vulkanik, yaitu gempa bumi yang di sebabkan oleh erupsi gunung berapi.
·      Gempa Tektonik, yaitu gempa bumi yang terjadi akibat dari pergeseran kulit bumi.
·      Gempa Runtuhan, yaitu gempa bumi yang disebabkan oleh tanah longsor, gua-gua yang runtuh, dan sejenisnya. Gempa runtuhan disebut juga terban.
Gempa gumi menurut episentrumnya, dibagi 2 macam gempa :
·      Gempa linier, episentrum gempa ini berbentuk garis (linier) . gempa tektonik umumnya termasuk jenis gempa linier sebab patahan sudah tentu merupakan suatu garis.
·      Gempa sentral, yaitu gempa yang episentrumnya berupa titik. Gunung api pada erupsi sentral  adalah sebuah titik letusan, demikian juga runtuhan retak bumi.
Gempa bumi menurut kedalaman hiposentrumnya, dibagi menjadi tiga yaitu:
·      Gempa dangkal, yaitu gempa bumi yang kedalaman hiposentrumnya kurang dari 50 km dari permukaan bumi. Bila kekuatan gempa ini besar maka akan terjadi kerusakan yang hebat, hampir 85% gempa bumi termasuk gempa dangkal.
·      Gempa intermedier atau gempa sedang,yaitu gempa yang hiposentrumnya dengan kedalaman antara 50-300 km dari permukaan bumi.
·      Gempa dalam, yaitu gempa bumi yang kedalaman hiposentrumnya antara 300-700 km dari permukaan bumi.
Gempa bumi berdasarkan tempat terjadinya atau lokasi terjadinya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
·      Gempa daratan, yaitu gempa bumi yang episentrumnya terletak di daratan.
·      Gempa lautan, yaitu gempa bumi yang episentrumnya terletak didasar lautan,gempa ini dapat berpotensi tsunami yang dapat menimbulkan korban jiwa maupun harta benda.
Berdasarkan jarak episentrumnya dibedakan dua macam :
·      Gempa dekat (lokal),  jarak episentrumnya kurang dari 10.000 km.
·      Gempa jauh,  jarak episentrumya lebih dari 10.000 km.
Ada tiga macam gelombang gempa,yaitu sebagai berikut:
1.     Gelombang longitudinal atau gelombang primer (P), yaitu gelombang yang merambat dari hiposentrum ke segala arah dan tercatat pertama kali oleh seismograf dengan kecepatan antara 7 - 14 km per detik dan periode gelombang 5 - 7 detik.
2.     Gelombang transversal atau gelombang sekunder (S), yaitu gelombang yang merambat dari hiposentrum ke segala arah dan tercatat sebagai gelombang kedua oleh seismograf dengan kecepatan antara 4 - 7 km per detik dan periode gelombang 11 - 13 detik.
3.     Gelombang panjang atau gelombang permukaan, yaitu gelombang yang merambat dari episentrum menyebar ke segala arah di permukaan bumi dengan kecepatan antara 3,5 - 3,9 km per detik dan periode gelombang relatif lama sehingga merupakan gelombang perusak.
Alat pencatat gempa (Seismograf) terdiri dari seismograf horizontal dan seismograf vertikal.
·      Seismograf  horizontal, yaitu seismograf yang mencatat gempa bumi dengan arah mendatar. Seismograf tersebut terdiri atas sebuah massa stasioner yang digantung dengan tali panjang pada sebuah tiang yang tinggi. Pada massa stasioner tersebut, dipasang jarum yang ujungnya disentuhkan pada permukaan silinder dan diputar seperti jarum jam. Tiang penopang dipancangkan di tanah. Pada waktu gempa, silinder bersama bumi bergetar, sedangkan masa stasioner tidak terpengaruh oleh getaran ini, sehingga terbentuklah goresan pada silinder.




Gb.Seismograf horizontal
·      Seismograf vertikal, yaitu seismograf yang mencatat gelombang berarah vertikal. Massa stasioner pada seismograf ditahan oleh sebuah tangkai yang dipasang pada sebuah tiang dengan engsel. Tangkai tersebut bersamaan dengan massa stasioner ditahan oleh sebuah pegas untuk mengimbangi gravitasi bumi. Ujung massa stasioner yang berjarum disentuhkan pada silinder yang dipasang vertikal.





Gb. Seismograf vertikal

Gb. Seismogram
Untuk menentukan letak suatu episentrum gempa, diperlukan catatan gempa bumi dari minimal tiga pencatat gempa bumi. Jarak stasion ke episentrum dapat dihitung dengan menggunakan Hukum Laska berikut:
D = {(S – P) – 1'} × 1 megameter
D = Delta, menunjukkan jarak ke episentrum
S = Saat tibanya gelombang S pada seismograf
P = Saat tibanya gelombang P pada seismograf
1' = 1 menit; 1 megameter = 1.000 km.
Contoh soal !
Stasiun pencatat gempa A mencatat gelombang primer suatu gempa  pukul 19.30’.20” dan gelombang sekunder pukul 19.35’.50”. tentukan jarak episentrum gempa dari stasiun pencatat A !
Diketahui : S = 19.35’.50”                  P = 19.30’.20”
Ditanya    : jarak episentrum (D) = ............?
Jawab       : (S-P) = 19.35’.50” – 19.30’.20”
                             = 5’30” = 5,5
                         D = 5,5 -1 ´ 1.000 km
                            = 4.500 km
Jadi, jarak episentrum dari stasiun gempa adalah sejauh 4.500 km.
Menentukan Skala Gempa
Ada beberapa skala yang dipakai untuk mengukur kekuatan gempa, antara lain skala Omori, Mercalli, dan Richter. Skala Richter digunakan untuk menggambarkan besaran gempa sedangkan Skala Mercalli digunakan untuk menunjukkan intensitas gempa, atau pengaruh gempa terhadap tanah, gedung, dan manusia.
1.    Skala Richter
Pada 1935, seorang Geophysics Amerika bernama Charles Francis Richter (1900-1985) bersama dengan Geophysics lain bernama Beno Gutenberg (1889-1960) mengembangkan skala yang pada prinsipnya dapat membandingkan semua seismogram sehingga mendapatkan gambaran tremors kekuatan yang serupa. Skala tersebut bernama Skala Richter dan sampai sekarang diakui sebagai standar umum skala kekuatan gempa.
Ukuran Skala Richter
Keterangan
1,0 - 3,0
Tidak diberi label oleh manusia.
3,0 - 3,9
Dirasakan oleh masyarakat di sekitar pusat gempa. Lampu gantung mulai goyang.
4,0 - 4,9
Terasa sekali getarannya. Jendela bergetar san bergeruruk, permukaan air beriak-riak, daun pintu terbuka-tutup sendiri.
5,0 - 5,9
Sangat sulit untuk berdiri tegak. Porselin dan kaca pecah, dinding yang lemah pecah, lepas dari batu bata, dan permukaan air di daratan terbentuk gelombang air.
6,0 - 6,9
Batu runtuh bersama-sama, runtuhnya bangunan bertingkat tinggi, rubuhnya bangunan lemah, ketekan di dalam tanah.
7,0 - 7,9
Tanah longsor, jembatan roboh, bendungan rusak dan hancur. Beberapa bangunan tetap, keretakan besar di tanah, trek kereta api bengkok. Terjadi kerusakan total di daerah gempa.
8,0 - …
Dapat menyebabkan kerusakan serius di beberapa daerah dalam radius seratus kilometer dari wilayah gempa.
2.    Skala Mercalli
Pada 1902, seorang Vulkanolog Italia bernama Giuseppe Mercalli (1850-1914) mengklasifikasi skala intensitas gempa bumi dan pengaruhnya terhadap manusia, bangunan (gedung), dan alam (tanah). Klasifikasi tersebut bernama Skala Mercalli yang ditentukan berdasarkan kerusakan akibat gempa dan wawancara kepada para korban, sehingga bersifat sangat subyektif. Oleh karena itu, pada tahun 1931 seorang ilmuwan dari Amerika memodifikasi Skala Mercalli ini dan sampai sekarang digunakan di banyak wilayah gempa. Klasifikasi intensitas gempa dengan Skala Mercalli dapat dilihat di tabel berikut :
Ukuran
Keterangan
I
Direkam hanya oleh seismograf.
II
Getaran hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar pusat gempa.
III
Getaran dirasakan oleh beberapa orang.
IV
Getaran akan dirasakan oleh banyak orang. Porselin dan barang pecah belah berkerincing dan pintu berderak.
V
Binatang merasa kesulitan dan ketakutan. Bangunan mulai bergoyang. Banyak orang akan bangun dari tidurnya.
VI
Benda-benda mulai berjatuhan dari rak.
VII
Banyak orang cemas, keretakan pada dinding dan jalan.
VIII
Pergeseran barang-barang dirumah.
IX
Kepanikan meluas, tanah longsor, banyak atap dan dinding yang roboh.
X
Banyak bangunan rusak, lebar keretakan di dalam tanah mencapai hingga 1 meter.
XI
Keretakan dalam tanah makin melebar, banyak tanah longsor dan batu yang jatuh.
XII
Hampir sebagian besar bangunan hancur, permukaan tanah perubahan menjadi radikal.
3.    Skala Omori
Karena Jepang memiliki derajat gempa yang kuat, skala yang disusun oleh Omori dimulai dengan derajat kerusakan yang cukup kuat dan berakhir dengan skala VII.
Tabel Skala Omori
Derajat
Keterangan
I
Getaran-getaran lunak dirasakan oleh banyak orang akan tetapi
tidak semua
II
Getaran sedang, semua orang terbangun karena bunyi jendela,
pintu dan barang-barang pecah
III
Getaran agak kuat, jam dinding berhenti, pintu dan jendela terbuka
IV
Getaran kuat, gambar dinding berjatuhan, dinding tembok retakretak
V
Getaran sangat kuat, dinding dan atap rumah roboh.
VI
Rumah yang kuat roboh
VII
Kerusakan menyeluruh
Pengaruh positif gempa bagi kehidupan :
1.    Gempa tektonik dapat digunakan untuk mengetahui jenis mineral yang ada didalam bumi.
2.    Gempa tektonik dapat digunakan untuk mengetahui struktur  lapisan kulit bumi.
3.    Gempa dapat digunakan untuk menentukan jenis konstruksi bangunan.
Pengaruh negatif gempa terhadap kehidupan :
1.    Bangunan roboh atau ambruk
2.    Terjadi kebakaran karena terjadi sambungan pendek aliran listrik.
3.    Terjadi banjir karena bendungan-bendungan dan tanggul yang jebol.
4.    Saluran pipa air dan gas putus.
5.    Terjadi tsunami apabila pusat gempa nya didasar laut.
6.    Sarana dan prasarana transportasi rusak.
7.    Distribusi barang dan jasa terhambat.
Agar bisa membaca peta informasi gempa, kita harus mengenal beberapa istilah yang biasa dipergunakan dalam peta gempa, yaitu sebagai berikut:
  •   Hiposentrum, yaitu titik pusat terjadinya gempa yang terletak di lapisan bumi bagian dalam.
  •  Episentrum, yaitu titik pusat gempa bumi yang terletak di permukaan bumi, tegak lurus dengan hiposentrum. 
  • Fokus, yaitu jarak antara hiposentrum dengan episentrum. 
  •   Isoseista, yaitu garis pada peta yang menghubungkan daerah-daerah yang mengalami intensitas getaran gempa yang sama besarnya. 
  • Pleistoseista, yaitu garis pada peta yang menunjukkan daerah yang paling kuat menerima goncangan gempa. Daerah tersebut terletak di sekitar episentrum.
  •   Homoseista, yaitu garis pada peta yang menghubungkan daerah yang menerima getaran gempa yang pertama pada waktu yang bersamaan.
Bentuk muka bumi akibat tenaga eksogen
Gb. Proses Pelapukan Batuan
A.  Pelapukan 
Pelapukan ialah perusakan batuan kulit bumi karena pengaruh keadaan Cuaca dan iklim, perubahan suhu, pengaruh unsur kimia yang terlarut dalam air hujan dan ulah mahluk hidup. Hasil pelapukan adalah terbentuknya tanah. Menurut prosesnya, pelapukan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pelapukan mekanis, pelapukan kimia, dan pelapukan organis (biologis).
Ada empat faktor yang mempengaruhi terjadinya pelapukan batuan, yaitu sebagai berikut :
1.    Keadaan struktur batuan
Struktur batuan adalah sifat fisik dan sifat kimia yang dimiliki oleh batuan. Sifat fisik batuan, misalnya warna batuan, sedangkan sifat kimia batuan adalah unsur-unsur kimia yang terkandung dalam batuan tersebut. Kedua sifat inilah yang menyebabkan perbedaan daya tahan batuan terhadap
pelapukan. Batuan yang mudah lapuk misalnya batu lempeng (batuan sedimen), sedangkan batuan yang susah lapuk misalnya batuan beku.
2.     Keadaan topografi
Topografi muka bumi juga ikut mempengaruhi proses terjadinya pelapukan batuan. Batuan yang berada pada lereng yang curam, cenderung akan mudah melapuk dibandingkan dengan batuan yang berada di tempat yang landai. Pada lereng yang curam, batuan akan dengan sangat mudah terkikis
atau akan mudah terlapukkan karena langsung bersentuhan dengan cuaca sekitar. Tetapi pada lereng yang landai atau rata, batuan akan terselimuti oleh berbagai endapan, sehingga akan memperlambat proses pelapukan dari batuan tersebut.
3.    Cuaca dan iklim
Unsur cuaca dan iklim yang mempengaruhi proses pelapukan adalah suhu udara, curah hujan, sinar matahari, angin, dan lain-lain. Pada daerah yang memiliki iklim lembab dan panas, batuan akan cepat mengalami proses pelapukan. Pergantian temperatur antara siang yang panas dan malam yang dingin akan semakin mempercepat pelapukan, apabila dibandingkan dengan daerah yang memiliki iklim dingin.
4.     Keadaan vegetasi
Vegetasi atau tumbuh-tumbuhan juga akan mempengaruhi proses pelapukan, sebab akar-akar tumbuhan tersebut dapat menembus celah-celah batuan. Apabila akar tersebut semakin membesar, maka kekuatannya akan semakin besar pula dalam menerobos batuan. Selain itu, serasah dedaunan yang gugur juga akan membantu mempercepat batuan melapuk. Sebab, serasah batuan mengandung zat asam arang dan humus yang dapat merusak kekuatan batuan.
Jenis-jenis pelapukan ada tiga macam  yaitu:
1.    Pelapukan mekanik
Pada siang hari ketika batuan terkena sinar matahari, mineral yang mudah menyerap panas akan lebih cepat memuai daripada mineral lain yang sulit menyerap panas matahari. Akibatnya bidang batas mineral-mineral dalam batuan tersebut akan retak-retak. Pada malam hari suhu udara turun dan batuan mengalami penurunan suhu (pendinginan), penurunan suhu dimalam hari menyebabkan mineral dalam batuan volumenya akan menyusut. Biasanya mineral yang mudah menyerap panas mudah pula melepas panas, sehingga lebih cepat dingin daripada mineral lain sehingga mengalami penyusutan volume lebih cepat. Akibatnya ialah bidang batas antar mineral menjadi renggang atau retak. Proses ini berlangsung terus –menerus setiap hari, sehingga lama kelamaan batuan yang keras bagian demi bagian akan retak –retak dan lepas selapis demi selapis dimulai dari bagian luar batuan. Akhirnya batuan terasebut akan hancur menjadi kerikil, dan kerikil akan hancur menjadi pasir dan pasir akan hancur menjadi debu-debu yang halus. Proses semacam inilah yang dinamakan pelapukan mekanik

2.    Pelapukan kimiawi
Gambar Stalaktit dan Stalagmit
terdapat didalam gua yang terbentuk akibat
pelarutan batu kapur oleh tenaga air.
Pelapukan ini merupakan pelapukan dengan proses yang lebih kompleks karena disertai dengan penambahan maupun pengurangan unsur kimia pada batuan. Sehingga komposisinya tidak lagi seperti batuan asal. Peristiwa seperti pelarutan batuan oleh air, oksidasi, dan hidrolisis mengakibatkan terjadinya pelapukan secara kimiawi. Bentuk kenampakan alam hasil pelapukan kimia salah satunya terlihat jelas di wilayah karst. Gua, uvala, dolina, dan aliran sungai bawah tanah misalnya, terjadi karena pelarutan tanah kapur melalui retakan-retakan (diaklas). Retakan akan semakin membesar dan bisa membentuk gua atau lubang-lubang. Jika lubang-lubang saling berhubungan maka sungai bawah tanah bisa terbentuk. Kenampakan yang lain seperti adanya stalakmit, stalagtit, dan danau yang dikenal dengan dolina.


3.    Pelapukan organis atau pelapukan biologis 
Pelapukan organis adalah proses penghancuran massa batuan dengan bantuan organisme makhluk hidup dan tumbuhan. Pada umumnya, pelapukan organis dipengaruhi oleh membusuknya sisa tumbuhan dapat membentuk asam gambut yang berakibat rusaknya batuan tersebut, pengrusakan batuan oleh binatang-binatang kecil di dalam tanah, pengrusakan batuan oleh aktivitas manusia dengan segala peralatannya baik alat tradisional maupun mekanik.


B.  Pengikisan (erosi)
Pengikisan atau erosi adalah proses pelepasan dan pemindahan massa batuan secara alami dari satu tempat ke tempat lain oleh suatu tenaga yang bergerak di atas permukaan bumi.
Erosi dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu:
1.    Erosi air, di sebabkan oleh air yang mengalir baik didalam tanah, air permukaan maupun sungai.erosi air dibedakan menajdi :
·      Erosi percik (Splash Erosion)
Erosi percik yaitu proses pengikisan yang terjadi oleh percikan air. Percikan tersebut berupa partikel tanah dalam jumlah yang kecil dan diendapkan di tempat lain.
·      Erosi lembar (Sheet Erosion)
Erosi lembar yaitu proses pengikisan tanah yang tebalnya sama atau merata dalam suatu permukaan tanah.
·      Erosi alur (Rill Erosion)
Erosi alur terjadi karena air yang mengalir berkumpul dalam suatu cekungan, sehingga di cekungan tersebut terjadi erosi tanah yang lebih besar. Aluralur akibat erosi dapat dihilangkan dengan cara pengolahan tanah biasa.
·      Erosi parit (Gully Erosion)
Proses terjadinya erosi parit sama halnya dengan erosi alur, tetapi saluransaluran yang terbentuk telah dalam, sehingga tidak dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah biasa.
2.    Erosi angin (deflasi), adalah erosi yang disebabkan oleh tenaga angin dan biasanya terjadi didaerah gurun.
3.    Erosi es/ gletser (eksarasi), adalah pengikisan yang disebabkan oleh massa es  yang bergerak.
4.    Erosi air laut (abrasi), adalah pengikisan yangdisebabkan oleh gelombang laut. Erosi laut disebut juga erosi morena. Faktor yang mempengaruhi kekuatan abrasi antara lain kekerasan batuan, besar kecilnya gelombang laut, kedalaman laut dimuka bumi, jumlah materi yang diangkut gelombang laut kepantai.
C.  Pengendapan (Sedimentasi)
Sedimentasi adalah prose spengendapan batuan atau tanah yang dilakukan oleh air, angin, dan es. Sedimentasi digolongkan menajdi tiga jenis :
1.    Sedimentasi fluvial, adalah proses pengendapan materi-materi yang diangkut oleh air sepanjang aliran sungai. Hasil sedimentasi fluvial antara lain:
·      Delta adalah endapan pasir, lumpur, dan kerikil yang terdapat dimuara sungai.
·      Bantaran sungai adalah dataran yang terdapat ditengah-tengah badan sungai atau pada kelokan dalam sungai sebagai hasil endapan.
2.    Sedimen eolis, sering disebut terrestrial. Sedimen eolis sering dijumpai didaerah gurun atau pantai. Bentukan alam yang merupakan hasil dari sedimen eolis yaitu guguk pasir  atau barkhan, sering dijumapi di pantai parang teritis (yogyakarta).
3.    Sedimen marin, adalah proses pengendapan yang dilakukan oleh gelombang laut yang terdapat disepanjang pantai.